
Kalau Anda pernah menengadah ke puncak kubah atau menara masjid dan melihat hiasan logam berbentuk mahkota, bulan sabit, atau ukiran kaligrafi yang berkilau, itulah yang disebut makara masjid. Secara sederhana, makara adalah ornamen logam yang dipasang di titik paling atas kubah atau menara, berfungsi sebagai penanda visual sekaligus pelindung struktur di bawahnya. Di Inara Logam, kami cukup sering menangani pemasangan bagian ini, dan salah satu hal yang paling sering ditanyakan pengurus masjid adalah: kenapa harus ada makara, dan apakah ini sekadar hiasan atau ada fungsi teknisnya? Jawaban singkatnya: dua-duanya. Artikel ini akan mengupas asal-usul istilah, fungsi, material, sampai kesalahpahaman yang paling sering muncul soal ornamen ini.
Apa Itu Makara Masjid, Sebenarnya?
Istilah “makara” sendiri bukan kata baru yang lahir bersamaan dengan tren kubah masjid modern. Kata ini dipinjam dari khazanah arsitektur candi Hindu-Buddha di Nusantara, di mana makara adalah makhluk mitologi gabungan gajah atau buaya dengan ikan atau naga. Menurut penjelasan National Geographic Indonesia, masyarakat kuno menganggap makara sebagai penjaga gerbang dan pelindung kuil, sehingga sosoknya kerap dipahat di ambang pintu atau relief candi (National Geographic Indonesia). National Geographic
Nah, ini bagian yang sering bikin bingung: makara yang dipasang di puncak kubah masjid bukan replika makhluk tersebut. Bentuknya jauh lebih sederhana dan abstrak — mahkota lancip, kombinasi bulan-bintang, atau kaligrafi lafaz Allah/Muhammad. Yang dipertahankan hanyalah nama dan fungsi simbolisnya sebagai “penanda puncak” dan “pelindung”, bukan wujud visualnya. Jadi kalau ada yang berharap melihat ukiran naga-gajah di atas kubah, itu ekspektasi yang keliru dari awal.
Fungsi Makara: Bukan Cuma Estetika
Dari pengalaman kami memasang ornamen puncak di berbagai proyek, ada dua fungsi yang selalu berjalan bersamaan:
Fungsi identitas dan estetika. Makara adalah elemen yang membuat sebuah bangunan langsung dikenali sebagai masjid dari kejauhan, bahkan sebelum orang melihat kubahnya secara utuh. Bentuknya biasanya disesuaikan dengan gaya arsitektur keseluruhan — masjid bergaya Timur Tengah biasanya memakai bulan-bintang, sementara masjid dengan sentuhan lokal kadang memakai bentuk mahkota yang lebih dekoratif.
Fungsi teknis-struktural. Ini bagian yang jarang disadari orang awam: puncak kubah atau menara adalah titik pertemuan panel-panel logam atau beton, dan di titik itulah air hujan paling rawan meresap kalau tidak ditutup rapat. Ornamen puncak berperan menutup sambungan tersebut sehingga kelembapan tidak masuk ke struktur di bawahnya. Fungsi ini yang membuat pemasangan makara tidak boleh asal tempel — presisi ukuran dan kerapatan sambungan jadi penentu apakah kubah akan bocor lima tahun ke depan atau tidak.
Material Makara Masjid: Kenapa Warnanya Sering Terlihat “Emas”?
Salah satu miskonsepsi paling umum: banyak orang mengira ornamen puncak masjid yang berkilau keemasan itu terbuat dari emas asli. Faktanya, material dasar yang lazim dipakai di lapangan adalah tembaga, kuningan, stainless steel, atau aluminium — masing-masing punya karakter ketahanan cuaca dan bobot yang berbeda. Warna keemasan itu umumnya hasil dari proses finishing atau pelapisan warna di atas logam dasar, bukan emas solid.
Pemilihan material ini juga bukan soal selera semata. Kami di Inara Logam biasanya menyesuaikan dengan kondisi cuaca lokasi masjid: daerah dengan curah hujan dan kelembapan tinggi lebih cocok memakai material yang tahan korosi, sementara pertimbangan bobot jadi krusial kalau ornamennya akan dipasang di ketinggian menara yang sulit dijangkau alat berat.
Bulan Sabit dan Bintang: Aturan Agama atau Tradisi Budaya?
Simbol bulan sabit dan bintang di puncak kubah sering dianggap sebagai kewajiban syariat, padahal ini murni elemen budaya-historis. Simbol tersebut mulai populer sebagai identitas visual arsitektur Islam sejak era Kesultanan Utsmaniyah, dan tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an maupun hadis sebagai syarat sah bangunan masjid. Artinya, pengurus masjid sebenarnya punya keleluasaan penuh untuk memilih bentuk ornamen puncak sesuai identitas lokal — tidak harus selalu bulan-bintang.
Sejarah Menara Masjid: Dari Ruang Kecil Muazin sampai Struktur Modern
Menariknya, menara bukan elemen yang ada sejak masjid pertama dibangun. Dalam jurnal ilmiah tentang struktur ornamen menara, dikutip pernyataan sejarawan arsitektur Islam K.A.C. Creswell bahwa menara pertama kali berdiri di samping masjid 41 tahun setelah Nabi Muhammad wafat — jauh setelah Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun, berdiri tanpa menara sama sekali (Aminullah, 2025, Nusantara Journal of Science and Technology). Menara tangga tertua yang terdokumentasi bahkan baru muncul pada 102 Hijriah atau sekitar 720–721 Masehi, di Masjid Raya Bosra, Suriah.
Contoh teknis dari lapangan: studi pada Menara Babussalam di Masjid As-Suada, Kalimantan Selatan, mencatat detail konstruksi ornamen puncak yang cukup spesifik — kemiringan atap kerucut 6,19 derajat dari sumbu tegak, ketebalan beton 80 mm, tulangan berdiameter 8 mm dengan jarak antar tulangan 80 mm, dan total 16 unit ornamen yang dipasang mengelilingi transisi bentuk segi delapan menuju kerucut. Detail seperti ini menunjukkan bahwa memasang ornamen puncak — baik dari logam maupun beton — bukan pekerjaan “tempel jadi”, tapi butuh perhitungan struktur yang matang, apalagi mengingat posisinya yang tinggi dan risiko kalau sampai lepas.
Konteks lain yang relevan: Indonesia sendiri adalah rumah bagi ratusan ribu masjid dan musala. Berdasarkan data Sistem Informasi Masjid (SIMAS) Kementerian Agama RI, tercatat 317.505 masjid dan 392.371 musala, atau total 709.876 tempat ibadah di seluruh provinsi Indonesia (SIMAS Kemenag RI). Skala sebesar ini artinya kebutuhan akan ornamen puncak — mulai dari perawatan makara lama sampai pemasangan baru — juga terus berjalan setiap tahun. Kemenag sendiri menyebut sistem pendataan ini sebagai sumber otoritatif untuk data masjid dan musala di Indonesia (InfoPublik Kominfo). InfoPublik
Sebagai gambaran skala bangunan, Menara Masjid Menara Kudus — salah satu menara masjid tertua di Jawa — memiliki tinggi sekitar 18 meter dengan luas dasar 100 m², dan dindingnya dihiasi 32 ornamen piring bermotif flora-fauna (HIMA FIB UGM). Ini contoh bagus bagaimana ornamen — termasuk yang di puncaknya — sudah jadi bagian tak terpisahkan dari identitas arsitektur masjid Nusantara sejak lama.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Ditanyakan soal Makara Masjid
1. Apa beda makara, mustaka, dan mahkota kubah?
Ketiganya sering dipakai bergantian untuk merujuk ornamen puncak yang sama. “Mustaka” lebih umum dipakai untuk atap gaya joglo/Jawa, sementara “makara” dan “mahkota kubah” lebih sering dipakai di konteks kubah bergaya Timur Tengah.
2. Material apa yang paling awet untuk makara masjid?
Tembaga dan kuningan dikenal tahan lama dan punya nilai estetika klasik, sementara stainless steel lebih diminati untuk daerah dengan cuaca ekstrem karena minim perawatan. Pilihan terbaik tetap tergantung kondisi lokasi dan anggaran.
3. Apakah simbol bulan sabit-bintang wajib ada di puncak kubah?
Tidak. Simbol ini adalah tradisi budaya yang populer sejak era Utsmaniyah, bukan ketentuan syariat, jadi bentuk ornamen puncak bisa disesuaikan dengan identitas masjid masing-masing.
4. Kenapa makara masjid perlu perawatan berkala?
Karena posisinya paling terekspos cuaca — hujan, panas, dan angin — sambungan dan lapisan finishing pada makara paling rentan mengalami korosi atau kebocoran dibanding bagian lain kubah.
5. Apakah makara hanya berfungsi sebagai hiasan?
Tidak sepenuhnya. Selain nilai estetika dan identitas, makara juga menutup celah sambungan di puncak struktur sehingga air tidak meresap ke dalam kubah atau menara.

